Kamis, 26 Desember 2013

TANTANGAN DAN PELUANG



TANTANGAN DAN PELUANG
BILANGAN 13:25-33

Dalam satu tantangan terdapat banyak peluang. Misal, kamu ‘nembak’ orang yang kamu suka, lalu ditolak. Kamu dapat tantangan apakah kamu dapat menerimanya atau tidak. Jika kamu dapat menerimanya maka kamu akan mendapatkan beberapa peluang. Pertama, kamu mendapatkan peluang untuk melayakkan diri (istilah Mario Teguh). Kamu membenahi diri menjadi lebih baik. Kedua, kamu mendapatkan peluang untuk bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik. Ketiga, kamu mendapatkan peluang untuk fokus terlebih dahulu dengan sekolah dan berkarya. Keempat, kamu mendapatkan peluang untuk mempunyai waktu dengan teman dan keluarga lebih banyak. Mungkin saat kamu pacaran, waktu untuk teman dan keluarga tidak lagi tersedia.
Begitu juga dengan tantangan lain yang datang dalam hidup kita. Kita bisa melihatnya sebagai peluang. Mungkin tantangan menjomblo, putus dari pacar, hidup dalam keluarga yang berantangan atau bahkan sampai tantangan tidak naik kelas. Apapun tantangannya jangan kabur, cobalah untuk menghadapinya.
Jangan seperti 10 pengintai yang ketakutan dan berusaha kabur dari tantangan untuk masuk ke tanah kanaan. Jadilah seperti Kaleb dan Yosua yang dengan penuh keyakinan menghadapi tantangan tersebut. Mereka yakin, jika Tuhan berkehendak pasti mereka dapat menduduki negeri tersebut (Bilangan 13:30; 14:8).
Apapun tantangan yang datang menghadang kita, ingatlah bahwa tantangan tidak pernah datang sendiri. Dia selalu datang bersama banyak peluang. Mau mendapatkan peluang tersebut? Hadapilah dahulu tantangannya.

Nuryanto Gracia

DARI BETLEHEM KE MESIR: KALA KEKUATAN TAK MEMBERI RUANG BAGI KEHADIRAN YANG LAIN

DARI BETLEHEM KE MESIR: KALA KEKUATAN TAK MEMBERI RUANG BAGI KEHADIRAN YANG LAIN
YESAYA 63:7-9; MAZMUR 148; IBRANI 2:10-18; MATIUS 2:13-23

“Terdengarlah suara di Rama tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Matius 2:18). Penulis matius mengutip ayat tersebut dari Yeremia 31:15 untuk menyatakan firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia telah digenapi, sekaligus memberikan gambaran betapa saat itu keadaannya sangat memilukan. Di mana-mana terjadi pembantaian bayi di bawah dua tahun.
Suara jeritan dan tangisan histeris pasti terdengar di setiap rumah yang memiliki bayi di bawah dua tahun. Bisa kita bayangkan betapa sakitnya seorang ibu dan mungkin juga seorang ayah, ketika melihat anaknya yang masih bayi diambil paksa untuk dibunuh. Mengapa tindakan keji seperti itu terjadi? Karena seorang penguasa yang tak memberi ruang bagi kehadiran yang lain, bahkan hanya untuk bayi berumur dua tahun ke bawah pun dia tidak mau berbagi ruang. Yesus yang masih bayi dan kedua orangtuanya pun tidak mendapat ruang sehingga mereka harus menyingkir dari Betlehem ke Mesir.
Penguasa yang tidak memberi ruang bagi kehadiran orang lain pun terus berlanjut, tidak hanya pada saat Yesus hidup tetapi juga setelah Yesus terangkat ke surga. Kaisar Nero tidak memberi ruang bagi agama baru, yaitu Kristen. Dia menganiaya dan melakukan tindakan keji terhadap orang-orang kristen. Tindakan tersebut dilanjutkan terus oleh penguasa lainnya seperti Kaisar Domitianus, Trajan, Marcus Aurelius Antonius, Lucius Septimus Severus, Marcus Clodius Pupienus Maximus, Decius, Valerian, Lucius Domitius Aurelianus dan Diodetian. Penganiayaan itu terus berlanjut hingga akhirnya kekristenan menjadi agama penguasa, dan akhirnya berkuasa.
Namun kekristenan, pada saat itu Katholik, yang telah menjadi penguasa melakukan hal yang sama seperti para penguasa yang dahulu menganiaya mereka. Mereka melakukan penganiayaan terhadap aliran kekristenan yang berbeda ajaran dengan mereka. Tindakan ini biasa disebut inkuisisi. Orang-orang yang tidak setuju dengan doktrin mereka disebut bidat. Para bidat harus bertobat serta bersumpah setia kepada Paus dan wakil gereja. Jika tidak maka mereka akan dihukum mati. Bidat yang tidak bertobat akan disiksa, dipotong tangan atau kaki, dibakar hidup-hidup atau siksaan keji yang lainnya. Kekejian ini terjadi dari tahun 1208-1834.
Kelompok Waldenses di Prancis menjadi korban pertama dari kekejaman inkuisi Paus. Para tokoh reformator pun, yang melahirkan kristen protestan, menghadapi penganiayaan juga seperti John Wycliffe, John Huss, William Tyndale, John Frith, Andrew Hewet, Marthin Luther dan John Calvin.
Sekali lagi, kekristenan tidak belajar dari masa lalunya. Protestan yang dulu dianggap bidat dan dianiaya oleh Katholik telah menjadi penguasa. Namun ketika mereka menjadi penguasa, mereka juga melakukan penganiayaan kepada mereka yang berbeda ajaran. Michael Servetus, seorang teolog asal Spanyol, diikat di sebuah tiang lalu dibakar di bukit Champel, di selatan kota Jenewa oleh para penjaga iman Protestan di Jenewa. Bahkan para tokoh reformator pun melakukan kekejian karena tidak bisa menerima perbedaan. Zwingli tercatat membunuh banyak kaum anabaptis karena berbeda paham ajaran mengenai baptisan.
Apakah kekuasaan selalu berkaitan dengan penolakan terhadap keberadaan yang lain?
Kita yang saat ini berkuasa di rumah, sebagai orangtua, janganlah sampai menolak anak-anak kita karena mereka berbeda dengan kita. Kita yang berkuasa di tempat kerja/tempat belajar, janganlah sampai menolak mereka yang berbeda dengan kita. Kita yang berkuasa di gereja, janganlah sampain menolak mereka yang berbeda pemikiran dan ajaran dengan kita. Kita yang berkuasa di masyarakat janganlah sampai menolak mereka yang berbeda dengan kita. Ingatlah, Yesus yang lahir adalah Tuhan yang merangkul mereka yang tertolak.

Nuryanto Gracia

Kamis, 19 Desember 2013

BATSYEBA



BATSYEBA
2 SAMUEL 11: 1-5, 12: 24-25; MATIUS 1:6

“Pernikahan politik.” Istilah ini dipakai untuk menunjuk kepada sepasang muda-mudi yang dinikahkan oleh orangtuanya karena alasan politik atau alasan kepentingan perusahaan. Dengan menikahkan kedua insan tersebut, diharapkan hubungan politik membaik atau perusahaan orangtuanya semakin kuat. Orangtua yang menikahkan mereka mendapatkan keuntungan yaitu hubungan politik atau perusahaan mereka semakin membaik. Lalu bagaimana dengan muda-mudi yang dinikahkan tersebut? Bagaimana dengan perasaan mereka?

Bisa jadi ada yang akhirnya bisa mencintai pasangannya setelah proses pernikahan terjadi, tapi bisa juga ada yang tidak mencintai pasangannya karena pernikahan mereka memang terjadi atas dasar politik, bukan atas dasar cinta. Mereka menikah karena terpaksa. Rasa sakit yang mendalam mungkin mereka alami. Sakit karena harus memaksakan diri menikahi orang tidak mereka sayang, dan sakit karena harus meninggalkan orang yang sebenarnya mereka cintai demi menikahi orang lain yang tidak mereka cintai. Yah, itulah pernikahan politik.

Bagaimana dengan Batsyeba? Apakah Batsyeba juga mengalami yang namanya pernikahan politik dengan Raja Daud? Tidak. Hal itu tidak mungkin, mengingat Batsyeba hanyalah istri dari seorang prajurit (2 Samuel 11:3). Apa gunanya seorang raja melakukan pernikahan politik dengan seorang istri prajurit? Tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap keadaan politik. Lalu mengapa Daud mengambil Batsyeba menjadi istrinya (2 Samuel 11:27). Nafsu. Yah karena nafsu. Nafsu yang tidak dapat dikendalikan membawa Daud pada perzinahan dengan Batsyeba hingga perempuan itu hamil (2 Samuel 11: 2-5). Pernikahan politik sudah sangat menyakitkan, apalagi ini pernikahan karena nafsu yang dipaksakan.

Jika kita dalam posisi Batsyeba, kita akan merasakan betapa sakitnya hati Batsyeba. Perempuan lemah, tidak berdaya dari masyarakat biasa yang tidak dapat melawan kehendak buruk rajanya. Dia ingin berontak tapi tak kuasa melawan kekuasaan sang raja. Dia hanya bisa membersihkan dirinya dari kenajisan, setidaknya itulah yang dapat dilakukannya (2 Samuel 11:4).

Betapa sakitnya dia ketika mengetahui dirinya mengandung akibat dari perlakuan buruk rajanya kepadanya. Sakitnya makin bertambah ketika dia mengetahui suaminya mati (2 Samuel 11:26). Akhirnya dia menikah dengan Daud. Beberapa bulan dia mencoba mengobati luka hatinya, sambil terus merawat anak dalam kandungannya. Namun ketika anak itu lahir, justru anak itu kena tulah selama tujuh hari. Bisa kita bayangkan betapa sakitnya hati Batsyeba menyaksikan anaknya selama tujuh hari menderita sakit yang amat sangat. Hingga akhirnya anaknya mati. Betapa sakit hatinya, di depan matanya dia melihat penderitaan anaknya dan kematian anaknya, Daud pun berusaha menghiburnya (2 Samuel 12:24). Luar biasa sakit hati yang dialami oleh Batsyeba.

Batsyeba pasti tidak membayangkan dia akan mengalami sakit hati luar biasa bertubi-tubi seperti itu. Mungkin juga kita pernah mengalami keadaan sakit hati yang bertubi-tubi hingga untuk bangkit pun kita sudah tidak sanggup lagi. Untuk menatap matahari pagi pun kita sudah tak ingin lagi. Luar biasa sakitnya, entah sakit yang diakibatkan oleh orang yang jauh dari kita ataupun orang terdekat dengan kita (sahabat, pacar/istri/suami, keluarga).

Namun ketahuilah, Tuhan tidak pernah membiarkan kita terus menerus terpuruk dalam sakit hati kita. Batsyeba Tuhan pulihkan. Dia mengobati sakit hati Batsyeba dengan memberikannya seorang anak yang dikasihi Tuhan dan yang nantinya akan menjadi anak yang penuh hikmat, yaitu Salomo (2 Samuel 12:24). Tidak hanya itu, anak itu kemudian hari menjadi salah satu bagian dari daftar nenek moyang Yesus (Matius 1: 6-7).

Tuhan tidak hanya memulihkan luka sakit hatinya Batsyeba, Dia juga merangkul Batsyeba dan menjadikannya bagian dari karya penyelamatan Allah. Tidak hanya Batsyeba, Tuhan juga bisa memulihkan luka sakit hati kita, dan memakai kita untuk pekerjaanNya. Datanglah padaNya dan biarkan Dia membalut luka sakit hati yang menganga besar tersebut.

Nuryanto Gracia

NATAL: FROM D-DAY TO V-DAY



NATAL: FROM D-DAY TO V-DAY
IBRANI 1: 1-4; MATIUS 1:21

Natal adalah D-Day. Apa itu D-Day? D-Day merupakan singkatan dari Decision Day, bukan Delicious Day. Seringkali banyak di antara kita mengartikan Natal sebagai Delicious Day, harinya untuk makanan mewah, pesta pora dan hura-hura. Natal bukan Delicous Day, natal dalah Decision Day. Natal adalah D-Day, sekaligus V-Day. Apa maksudnya?
            Dalam Perang Dunia II seluruh dataran Eropa dikuasai Hitler. Pada suatu hari, tibalah saat yang menentukan. Pasukan sekutu mendarat untuk membebaskan Eropa. Hari itu disebut "D-Day" yaitu "Decision Day" atau Hari Penentuan. Tetapi D-Day tidak berarti bahwa daratan Eropa langsung menjadi bebas. Samasekali tidak. Yang terjadi adalah peningkatan dan percepatan pertempuran. D-Day malah menimbulkan pertempuran besar yang mengakibatkan banyak penderitaan. Pertempuran itulah yang kemudian membebaskan daratan Eropa. Akhirnya seluruh daratan Eropa bebas. Itulah yang disebut "V-Day" yaitu "Victory Day" atau Hari Kemenangan.
            Natal adalah D-Day. Kedatangan Yesus 2000 tahun lalu sebagai penentuan bahwa Allah mau berdamai dengan umat manusia dengan berbicara kepada manusia melalui perantaraan anakNya (Ibrani 1:2). Yesus datang dengan Injil yang membebaskan, yaitu berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Markus 1:15), serta kebebasan, keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah untuk dunia (Lukas 4:18-21). Sesudah mengutip ayat-ayat itu, Tuhan Yesus menegaskan, "Pada hari ini genaplah nas ini ...." (Lukas 4:21).
            Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dalam perumpamaan di Matius 24 Yesus berkata, "Berjaga-jagalah kamu". Ini bukan berarti menunggu atau meramalkan masa depan. Melainkan turut bekerja dengan Yesus menampakkan tanda-tanda Kerajaan Allah itu. Akan tibalah nanti suatu "V-Day", dimana Allah sendiri akan menyempurnakan Kerajaan-Nya itu (baca Wahyu 21).
            Sekarang kita hidup dalam babak sejarah antara D-Day dan V-Day. Inilah babak peningkatan dan percepatan tugas. Babak untuk mendengarkan dan mempendengarkan Injil.

(Disadur dari buku Selamat Natal, Andar Ismail)