Tampilkan postingan dengan label FEBRITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FEBRITA. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2013

ULANG TAHUN: RESOLUSI “PUBER” DAN PEMBEBASAN

ULANG TAHUN: RESOLUSI “PUBER” DAN PEMBEBASAN
Yesaya 58:9-14, Mazmur 103:1-8, Ibrani 12:18-29, Lukas 13:10-17

Sewaktu usia belasan tahun, saya sangat menantikan hari ulang tahun (HUT). Saya yakin anak seusia saya ketika itu juga menantikannya sebab ada hadiah, kejutan atau ucapan selamat dari teman-teman maupun orang tua. Tetapi ketika usia beranjak dua puluhan greget akan hari ulang tahun tidak seperti dulu lagi malah berkurang. Sejak usia dua-puluhan saya mulai berefleksi tentang apa arti ulang tahun bagi saya? Apa yang sudah saya lakukan sampai seusia ini? dan apa yang belum? Lalu saya berpikir untuk menentukan target setahun ke depan.
Target setahun ke depan kemudian diisi dengan berbagai rencana, keputusan dan komitmen yang harus saya wujudkan. Rencana, keputusan dan komitmen inilah yang disebut dengan resolusi. Resolusi seorang yang berusia dua-puluhan umumnya, selesai skripsi, dapat pekerjaan, punya penghasilan sendiri, punya pendamping, menikah, mendapat promosi jabatan dari atasan bagi yang sudah bekerja, bertambah penghasilan dan sebagainya.
Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang menyatakan kesatuan (Sinode Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur) resmi pada tanggal 26 Agustus 1988 ini juga punya resolusi dalam peringatan HUTnya yang ke-25. Sebagai kesatuan gereja yang berusia dua puluh-an, GKI ingin bertumbuh sebagai paguyuban umat beriman atau ‘puber’. Sedangkan resolusi berikutnya adalah GKI ingin bertumbuh menjadi gereja pembebas bagi sesamanya.
Sebagai paguyuban (KBBI, guyub = perkumpulan bersifat kekeluargaan) umat beriman, GKI menyadari bahwa dirinya adalah komunitas orang-orang yang menyandarkan kepercayaannya pada Yesus Kristus. Orang-orang Kristen yang termasuk dalam komunitas GKI memiliki panggilan baik secara pribadi maupun secara komunal sebagai gereja. Secara pribadi, orang-orang Kristen mempunyai tanggung jawab memelihara imannya kepada Tuhan dengan tekun berdoa, beribadah, memberi persembahan, menerima pengampunan dari Tuhan dan mengalami mukjizat yang dikerjakan Tuhan dalam hidupnya (Maz. 103:2-5). Sedangkan secara komunal, orang-orang Kristen mempunyai tanggung jawab untuk senantiasa memelihara persekutuan, saling menghormati, saling membangun dan bekerja sama untuk mewujudkan kasih Allah bagi sesama (Yes. 58:9-10).
Sebagai Gereja yang membebaskan, GKI yang bersatu dalam Sinode Am GKI yang terdiri dari 222 Jemaat, terbagi dalam 19 Klasis dan 3 Sinode Wilayah dapat memberikan kontribusi bagi dunia secara khusus bagi bangsa Indonesia. Kontribusi yang dapat diberikan oleh GKI adalah melalui suara kenabian (prophetic call). Suara kenabian itu tampak dalam visi GKI yaitu menjadi Mitra Allah dalam mewujudkan damai sejahtera di Dunia. Untuk mewujudkan suara kenabian ini, di Indonesia sendiri, GKI memiliki Tim GKI (Gerakan Kemanusiaan Indonesia) yang siaga bila terjadi bencana alam di Indonesia. Memang Tim GKI ini sangat terlihat mobilitasnya terutama ketika terjadi musibah banjir, tanah longsor, gempa bumi di Aceh, Nias, Yogyakarta dan Mentawai. Tim GKI menyediakan dapur umum untuk menyalurkan bantuan pangan, penyaluran air bersih dan tendon air serta pengadaan penerangan di tempat bencana, membuat hunian sementara dan menyediakan para medis serta obat-obat yang dibutuhkan. Bantuan yang diberikan ini memang dapat membebaskan sesama yang tertimpa musibah dari penderitaan untuk sementara. Namun perjuangan gereja untuk mewujudkan damai sejahtera tidak boleh berhenti sampai di sini. Perjuangan tersebut harus terus berlanjut.
Suara kenabian membebaskan yang lain yang harus diwujudkan oleh GKI terus-menerus adalah GKI sebagai gereja dapat mengkritisi setiap situasi dan setiap struktur yang menekan dan menindas HAM di sekitarnya, gereja dapat mengkritisi hal-hal yang bertentangan dengan persaudaraan, keadilan dan kebebasan. Gereja juga dapat mencari akar penyebab ketidakadilan sosial. Untuk melakukan hal-hal ini tentunya gereja tidak dapat berjalan sendiri, gereja perlu bekerja sama dengan masyarakat dan kelompok/lembaga lain yang memiliki arah perjuangan yang sama sehingga damai sejahtera dapat dialami secara menyeluruh dan transformasi keadaan dapat terwujud seperti yang dilakukan Yesus (Luk. 13:10-17). Mari berjejaring dengan kelompok/lembaga lain demi mewujudkan damai sejahtera bagi Indonesia!
Dirgahayu Gereja Kristen Indonesia yang ke-25! Tuhan Yesus memberkati.

Febrita Melati

MENJARING ANGIN: UPAYA MENEMUKAN HIKMAT DI TENGAH KEHIDUPAN

MENJARING ANGIN:
UPAYA MENEMUKAN HIKMAT DI TENGAH KEHIDUPAN
Pkh. 1:2, 12-14, 2:18-23, Mzm. 49:1-12, Kolose 3:1-11, Lukas 12:13-21



Beberapa waktu lalu, seorang teman pernah berkata, “banyak makanan yang gue makan hari ini: tempe mendoan, ikan gurame goreng, tahu goreng, kangkung dll. Tapi mengapa rasa lapar datang kembali?. Makan dan gak makan sama aja, toh akhirnya gue ngerasa lapar lagi”. Dari perkataannya tersirat bahwa seolah makanan tidak berguna karena tidak bertahan lama untuk menutupi rasa laparnya. Namun apakah benar kalau makanan tidak berguna? Apakah benar kalau makan adalah sesuatu yang sia-sia?
Salomo juga banyak merasakan dan melihat kesia-siaan dalam hidup. Salomo mengalami bahwa waktu berputar begitu saja dan sebenarnya tidak ada yang baru di dunia ini. Matahari terbit, terbenam dan akan kembali terbit lagi, semua air sungai mengalir ke laut tapi toh laut tidak penuh-penuh juga. Walaupun Salomo orang yang berhikmat, namun Salomo senang untuk terus-menerus menambah hikmat. Sayanganya hal ini dia rasakan sebagai suatu kesia-siaan sebab tidak semua orang memiliki semangat dan kerinduan untuk memiliki hikmat. Hikmat yang dimiliki Salomo juga pada akhirnya ia tinggalkan untuk mereka yang tidak berjerih payah (Pkh. 2:21). Salomo juga melihat bahwa akhir hidup semua manusia itu sama: baik orang berhikmat maupun orang bodoh akan sama-sama mati (Pkh. 2:16). Salomo pesimis, ia melihat segala usaha yang dilakukan manusia di bawah Matahari pada akhirnya seperti usaha menjaring angin.
Usaha menjaring angin itu juga tampak dalam perumpamaan seorang pemuda kaya yang memiliki hasil tanah yang berlimpah-limpah (Luk.12:16-20). Dengan hasil tanah yang berlimpah-limpah tentu membuat pemuda itu tidak perlu khawatir akan masa depannya. Pemuda itu sangat yakin bahwa hartanya dapat membuat ia senang dan membuat aman jiwanya. Padahal harta tidak menjamin orang bisa tidur nyenyak di waktu malam, harta tidak menjamin orang bisa membeli kesehatan, harta juga tidak menjamin kondisi hidup berumah tangga berjalan baik. Memang mesti diakui bahwa pemuda itu mendapat kekayaan dengan berjerih payah. Namun jerih payah pemuda itu sia-sia sebab harta tidak dibawa mati. Pemuda itu juga belum mempersiapkan siapa yang menjadi pewaris harta kekayaannya.
Salomo dan Pemuda Kaya itu memiliki kesamaan cara pandang bahwa hidup itu hanya untuk hari ini dan di sini. Sehingga segala usaha yang dilakukan mereka hanya bermanfaat untuk waktu yang sebentar saja. Selebihnya manusia hanya menikmati hasil dari jerih payah hidupnya. Kedua pandangan ini berorientasi pada hal-hal yang duniawi saja namun cara pandang seperti ini mau menunjukkan bahwa cara hidup mereka adalah cara hidup manusia lama yang masih berorientasi pada diri sendiri. Namun orang-orang Kristen yang telah ditebus oleh kematian dan kebangkitan Kristus hendaknya meninggalkan cara hidup lama dan memiliki cara hidup baru. Orang-orang Kristen yang memiliki cara hidup baru ditandai dengan meninggalkan sifat-sifat duniawi seperti keserakahan, marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor (Kol. 3:5-8). Mereka sekarang hidup dengan sikap belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kol. 3:12).
Jadi baik itu makan, bekerja maupun beribadah bagi orang-orang Kristen bukanlah sesuatu yang sia-sia bila kita melihat aktivitas tersebut tidak dalam jangka saat ini atau di bumi saja (earth oriented) melainkan dalam rangka kekekalan dengan cara hidup baru dimana Kristus menjadi tujuan hidup kita. Memiliki cara pandang Kristus atau cara hidup baru adalah penting sebab inilah hikmat yang berasal dari Kristus. Dengan hikmat inilah, kita yakin bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di tengah-tengah kehidupan bukanlah usaha menjaring angin.

Febrita Melati

Damai Di Bumi Indonesia

Damai Di Bumi Indonesia
Yeremia 23:23-29, Mazmur 82, Ibrani 11:29-12:2, Lukas 12:49-56



Ada dua orang pelukis yang mencoba melukiskan damai sejahtera. Pelukis pertama melukiskan damai sejahtera ibarat sebuah hutan yang terbentang luas serta pohon-pohonya menghijau. Suasana sejuk dan meneduhkan. Tiada terpaan angin kencang. Semua penghuni hutan bersahabat satu dengan lainnya, sehingga tidak pernah terjadi keributan dan perselisihan. Dari lukisan tersebut, bagi sang pelukis pertama, damai sejahtera identik dengan ketenangan, keteduhan dan keadaan yang serba tidak ada masalah. Pelukis kedua melukiskan damai sejahtera seperti lautan bergelombang. Hantaman ombak terus menderu dan suaranya sangat menakutkan. Suasana lautan begitu mencekam. Namun di tengah lautan itu berdiri batu karang yang teguh, yang tidak tumbang akibat terpaan gelombang. Di atas batu karang itu terdapat sepasang burung yang sedang berpacaran sambil menyaksikan gelombang badai yang menakutkan itu. Burung-burung itu seolah-olah tidak merasa takut karena hantaman badai. Bagi pelukis kedua damai sejahtera itu berarti tenang di tengah badai.
Dari kedua jenis damai sejahtera tersebut, damai seperti apa yang dapat diusahakan oleh bangsa Indonesia? Bila damai yang pertama maka tidak mungkin keadaan tenang, teduh serta tidak ada masalah sama sekali terjadi di negeri kita. Keadaan seperti itu hanya terjadi di surga. Tetapi bila damai yang kedua mungkin dapat diusahakan sebab negeri kita tidak dapat tidak, selalu dilalui gelombang kehidupan, banyak pergumulan yang tengah dihadapi bangsa kita saat ini. Pergumulan tersebut seperti konflik antar agama/suku, terorisme, korupsi, pelanggaran HAM dan sebagainya sering menimbulkan ketidaktentraman. Dalam situasi ketidaktentraman seperti ini, orang-orang percaya dipanggil untuk mengusahakan damai sejahtera.
Di Alkitab pernah disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Raja Damai namun mengapa dalam Injil Lukas dikatakan bahwa Yesus membawa pertentangan? (Luk.12:51). Yesus membawa pertentangan di dunia memang pernah dinubuatkan oleh nabi Simeon (Luk. 2:34). Pertentangan yang dimaksudkan adalah kehadiran Yesus melalui kehidupan, penyaliban dan kebangkitan-Nya membuat orang-orang menerima Dia atau menolak-Nya. Kehadiran Yesus memisahkan orang-orang percaya dari orang-orang dunia sebab melalui pengorbanan-Nya di Kayu Salib, sesungguhnya Yesus Kristus menghadirkan damai sejahtera dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Bagi mereka yang memilih untuk tidak percaya kepada-Nya maka damai sejahtera tidak tinggal di dalam hati mereka. Sehingga tidak heran bila pelanggaran, permusuhan, kebencian, kesewenang-wenangan terjadi di sekitar kita.
Dalam konteks Indonesia, damai sejahtera yang dapat diusahakan oleh orang-orang percaya adalah dengan bersikap tidak eksklusif. Negara kita memiliki keanekaragaman sebagai ciri khasnya. Keanekaragaman tersebut memang menjadi kebanggaan namun tidak jarang menimbulkan konflik baik antar agama, antar suku, antar ras, antar golongan dan status sosial. Dengan bersikap tidak eksklusif, kita dipanggil untuk membuka diri dalam perbedaan. Dalam membuka diri, orang-orang percaya tidak melulu mengurusi kebutuhan pribadi dan kelompoknya tetapi juga peduli pada kebutuhan sesama yang berbeda. Dalam membuka diri inilah orang-orang percaya dapat bekerja sama lintas iman/golongan dan menyalurkan kasih Allah sebab mereka yang berbeda juga kekasih Allah. Mari membangun bangsa ini dengan damai sejahtera dari Allah melalui sikap hidup yang tidak eksklusif. Dirgahayu Republik Indonesia ke-68! Tuhan Yesus memberkati.

Febrita Melati

IMAN YANG BERHARAP: MEMANDANG ALLAH YANG JANJINYA TEGUH

IMAN YANG BERHARAP: MEMANDANG ALLAH YANG JANJINYA TEGUH
Kejadian 15:1-6, Mazmur 33:12-22, Ibrani 11:1-3, 8-16, Lukas 12:32-40



Banyak hal di dunia ini yang membuat orang kuatir, diantaranya: belum mendapat pekerjaan, belum mempunyai pasangan hidup, sudah menikah namun belum mempunyai anak, kuatir tentang pergaulan anak, belum cukup biaya untuk membayar uang sekolah anak, kuatir akan kejujuran dan kesetiaan pasangan hidup, kuatir akan masa depan, dan sebagainya. Kekuatiran dapat dialami dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.
Di dalam Alkitab, kekuatiran juga pernah melanda Bapa orang beriman. Di tengah usianya yang semakin lanjut, Abraham belum dikaruniai keturunan, sehingga ia merasa yakin bahwa yang menjadi ahli warisnya ialah hambanya sendiri, Eliezer. Memang, Tuhan Allah pernah berjanji kepadanya bahwa ia akan mempunyai keturunan sebanyak bintang di langit (Kej. 15:4-5). Namun berpuluh-puluh tahun kemudian Tuhan Allah belum memberikannya. Abram pun tetap setia menunggu dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Hingga akhirnya Ia sendiri melihat janji Tuhan Allah tergenapi di dalam Ishak pada usia yang keseratus tahun. Ishak kemudian memperanakan Yakub dan Yakub memperanakan kedua belas suku Israel. Kemudian kedua belas suku Israel menjadi bangsa yang besar. Tergenapilah janji Tuhan Allah dengan memberi keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di tepi laut yang tidak terhitung banyaknya karena ia menganggap Tuhan Allah yang memberikan janji itu setia (Ibr. 11:11-12).
Tuhan Allah kita bukanlah Tuhan yang mengobral janji. Dia adalah Tuhan yang setia pada janji-Nya. Kita menemukan banyak janji Tuhan di dalam Alkitab. Bila kita menemukan janji Tuhan bahwa Ia adalah Gembala kita, dan kita tak ‘kan kekurangan (Maz.23:1) maka kita tidak perlu kuatir akan kebutuhan hidup. Bila kita meyakini bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup kekal (Yoh.3:16) maka kita tidak perlu kuatir bila ada anggota keluarga kita yang percaya pada-Nya meninggal. Bila kita percaya bahwa Tuhan akan menanggung beban kita (Mat. 11:28) maka kita tidak perlu merasa sendirian ketika ditimpa masalah.
Kita tidak perlu kuatir bahwa Tuhan akan ingkar janji. Tuhan yang memberikan janji, Tuhan pasti menepati. Percaya akan janji-Nya adalah suatu langkah iman yang mesti kita pilih. Iman yang senantiasa percaya dan berusaha dengan setia sampai segala harapan terwujud. Mari meneladani iman Abraham. Mari kita sandarkan harapan kita pada Allah yang memegang teguh janji-Nya. Amin.

Febrita Melati

Doa: Kemurahan yang disambut dalam Ketaatan

Doa: Kemurahan yang disambut dalam Ketaatan
Kejadian 18:20-32, Mazmur 138, Kolose 2:6-19, Lukas 11:1-13



Peribahasa “Ora et Labora” adalah semboyan yang berasal dari tradisi kerahiban (monastik) baik di Barat maupun di Timur. Dalam tradisi tersebut doa dan kerja menentukan irama hidup para rahib. Kerja dengan tangan diberi tempat dalam keseluruhan hidup membiara. Maka tak heran bila kita melihat para biarawan dan biarawati selain jadi rohaniwan mereka juga bertani, berternak, menulis, menjadi ilmuwan dan masih banyak pekerjaan lain yang dilakukan. Namun yang menentukan dan menjadi tujuan hidup mereka adalah doa oleh sebab itu mereka mempunyai waktu-waktu khusus di Biara untuk berdoa dalam satu hari.
Bila dibandingkan dengan kehidupan masyarakat sekarang yang terjadi sebaliknya. Kerja menjadi penentu dan tujuan hidup sehingga doa harus mencari tempatnya sendiri di tengah kesibukan kerja. Karena kehidupan masyarakat yang semakin sibuk dan kerja menjadi penentu, maka doa bisa menjadi masalah. Terutama bila orang melihat bahwa berdoa itu harus mengundurkan diri dari keramaian hidup atau menyepi ke tempat-tempat tertentu seperti para rahib. Maka peribahasa “Ora et Labora” sebaiknya diganti saja, sebab sepertinya masih ada pemisahan antara doa dan kerja. Bagaimana bila doa dan kerja tidak lagi dipisahkan? maka menurut Eka Darmaputera peribahasa tersebut dapat diubah menjadi “Ora est Labora”, doa adalah kerja. Doa dan kerja menjadi satu ketika apa yang kita sadar bahwa apapun yang kita kerjakan setiap harinya adalah doa kita pada Tuhan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, doa yang seperti apa?
Dalam Kisah Abraham (Kej. 18:20-32), kita dapat melihat bagaimana Allah begitu negotiable, Ia bukanlah Allah yang kaku dan dingin tetapi Allah yang mau mendengarkan. Percakapan antara Abraham dan Allah menyiratkan bahwa Allah jauh lebih bersedia mendengarkan daripada kita bersedia berkata-kata kepada-Nya. Allah benar-benar mendengarkan permohonan Abraham bahwa tidak semua penduduk Sodom dan Gomora Ia binasakan. Seperti inilah Allah menunjukkan kemurahan-Nya. Memang pada akhirnya tidak sampai 10 orang yang diselamatkan hanya tiga orang benar yang disematkan dari kehancuran Sodom dan Gomora yaitu Lot dan kedua anak perempuannya.
Lalu, perumpamaan tentang seorang yang sedang dalam perjalanan kemudian singgah di rumah seseorang saat tengah malam juga mengajarkan tentang kemurahan Allah. Karena waktu sudah larut malam, tuan rumah tidak punya makanan untuk dihidangkan kepada tamunya. Sementara itu di daerah Timur, keramah tamahan sangat dijunjung tinggi. Maka tuan rumah itu pergi ke rumah tetangganya walaupun sudah tengah malam, dan mengetuk pintu untuk meminjam roti. Namun tetangganya itu sudah lama tidur. Mula-mula tetangganya itu tidak mau bangun. Tetapi sang tetangga yang memerlukan roti itu mengetuk, mengetuk dan mengetuk. Ia terus mengetuk tanpa malu. Akhirnya, tetangga yang sudah tidur itu bangun dan memberikan apa yang diperlukannya (Luk. 11:5-8). Seperti itulah Allah, Ia jauh lebih bersedia memberi daripada tetangga si Tuan Rumah juga Ia lebih bersedia member daripada kita bersedia meminta. Ini juga adalah kemurahan-Nya.
Kalau Allah merespon doa-doa kita dengan menyatakan kemurahan-Nya maka kita juga harus menyambut respon Allah tersebut dengan ketaatan pada kehendak-Nya. Ketaatan kita tampak dari usaha kita meminta, mengetuk dan mencari (Lukas 11:11-13). Meminta berarti kita sadar akan kebutuhan kita dan percaya bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan tersebut. Mengetuk berarti kita memohon dengan sungguh-sungguh pada Allah disertai dengan tunduk pada kehendak-Nya. Sedangkan mencari berarti kita tekun dalam menghampiri Allah sekalipun ia tidak menjawab doa-doa kita dengan segera. Sebagaimana doa bukanlah monolog melainkan dialog maka Allah menghendaki respon kita dalam menaati kehendak-Nya. Dalam Doa yang berdialog inilah doa dan kerja menjadi satu.
Tidak ada seorang Bapa pun yang menanggapi rasa lapar anaknya dengan memberikan makanan yang tidak berguna atau malah membahayakan anaknya. Di dalam respon terhadap doa, kita juga tidak perlu khawatir bahwa Allah akan memberikan respon yang negatif pada kita. Ia mengerti siapa kita dan apa yang terbaik untuk kita. Hanya respon ketaatan dari kitalah yang diharapkan-Nya. Semua usaha yang kita lakukan untuk menjadikan “Ora est Labora” seperti meminta, mengetuk dan mencari diharapkan dapat dilakukan berdasarkan ketaatan kepada Bapa.

Febrita Melati

Teladan Vs Prestasi


Teladan Vs Prestasi
(Efesus 6:1-9)


“Waktu adalah prestasi”, kata-kata bijak ini ditulis oleh seorang ibu di dalam jam dinding di kamar anaknya, ia juga menempelkan foto mereka sekeluarga di dalam jam dinding itu. Kata-kata bijak itu dipakai untuk mengingatkan anaknya bahwa setiap waktu itu berharga dan setiap waktu dipakai untuk meraih prastasi. Sehingga tak heran bila sang anak berusaha untuk belajar giat sebab orang tuanya menginginkan dia untuk berprestasi setiap saat.
Keinginan ibu tersebut sama seperti keinginan para orang tua pada umumnya. Para orang tua menginginkan anak-anaknya masuk sekolah terbaik di daerahnya bahkan mewajibkan anaknya mengikuti les tambahan di luar sekolah baik les yang masih berhubungan dengan pelajaran akademis maupun les keterampilan. Semua dilakukan demi prestasi. Keinginan orang tua yang seperti ini kadang membuat anak tertekan. Anak mempunyai beban berat di pundaknya.
Untuk memenuhi keinginan tersebut, banyak anak memilih jalan pintas dengan mencontek atau membohongi orang tua mereka dengan membeli jawaban soal ujian. Bahkan ada juga anak yang memberontak dengan menjadi anak nakal. Mereka membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh kebiasaan buruk seperti membolos, tawuran, mencoba narkoba sampai kecanduan dan terikat dengan pergaulan yang merusak. Kalau sudah seperti ini akhirnya orang tua susah sendiri.
Paulus menasihatkan kepada orang tua agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya (Ef. 6:4). Paulus tidak ingin anak-anak dikorbankan bagi keinginan orang tua. Tetapi Paulus menginginkan agar anak-anak dididik di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Orang tua punya tanggung jawab mendidik (ektrephein paideia = membesarkan dengan rupa-rupa disiplin, 2 Tim. 3:16, Ibr. 12:5,7-8, 11) anaknya, itu berarti orang tua harus berusaha memberikan kepada anak-anak mereka suatu pendidikan yang bersumber di dalam Tuhan, yang dijiwai dan digerakkan oleh-Nya. Kalau hal ini terjadi Kristus menjadi pusat dari pendidikan mereka, pastilah anak-anak tidak akan marah dan memberontak, melainkan sebaliknya akan taat dan menghormati orang tua.
Teladan merupakan didikan terbaik yang dapat orang tua berikan pada anak-anaknya agar berprestasi. Sebab dengan teladan anak-anak memiliki pegangan yang kuat atas semua yang dilakukannya. Ketika orang tua menghendaki anak belajar alangkah baiknya orang tua juga memberi contoh belajar yang baik. Misalnya dengan menemani anak belajar atau dengan membaca koran bersama anak. Tidak baik bila anak ditinggal tidur atau nonton TV. Atau bila orang tua menyuruh anaknya berdoa alangkah baik bila anak sering melihat orang tuanya berdoa atau mereka sering berdoa bersama bukan malah orang tua jarang berdoa. Dengan teladan orang tua seperti ini, anak tentunya tak sungkan untuk taat dan menghormati orang tua mereka. Apa pun yang diinginkan orang tua dengan sukarela dan tulus akan mereka lakukan. Sebab seperti inilah cara mereka menunjukkan sikap taat dan hormat pada orang tua. Sikap hormat dari anak ini sesungguhnya lebih dari ketaatan mereka. Di dalam rasa hormat ada aspek ketakutan, bukan ketakutan hamba atau budak pada tuannya tetapi ketakutan yang lahir dari ketakutan kepada Tuhan. Orang tua-orang tua yang demikian berhak atas penghormatan tersebut.

Febrita Melati

Firman Dalam Kehidupan

Firman Dalam Kehidupan

Kapan terakhir kalinya saudara belajar Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh? Kebanyakan dari kita mungkin belajar Firman Tuhan dengan sungguh pada saat mendapatkan pendidikan Katekisasi di gereja atau pada saat mendapatkan Pendidikan Agama Kristen (PAK) di bangku Kuliah atau pada saat mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) di gereja beberapa waktu lalu. Memang pada hari Minggu kita belajar Firman Tuhan tetapi hari Minggu saja tidak cukup. Kita bersyukur GKI Kavling Polri memiliki PA Jemaat dan Ibadah Pengajaran dimana di sana Firman Tuhan dapat dikupas secara dalam sehingga jemaat dapat mengerti lebih jelas, lebih tajam dan lebih dalam Firman Tuhan. Selain di gereja kita ada juga orang Kristen yang rajin mengikuti seminar-seminar Alkitab selain di gerejanya. Ada yang mengikuti Sekolah Alkitab sekalipun tidak menjadi hamba Tuhan atau pendeta. Rasa lapar dan haus akan Firman Tuhan ini baik dan penting sebab dari sanalah kita akan semakin mengenal kebenaran dan hidup darinya.
Tetapi sayang bila Firman Tuhan yang sudah kita peroleh itu hanya dianggap sebagai sekedar pengetahuan. Kita tahu apa yang baik dan yang benar dilakukan menurut Firman Tuhan tetapi kita tidak melakukannya. Seperti para Imam dan Lewi yang melewati begitu saja saudaranya yang terluka karena dirampok dan dipukuli di jalan Yerusalem menuju kota Yerikho (Lukas 10:30-32). Padahal sebagai Imam tentunya ia tahu ajaran tentang mengasihi sesama dan sebagai Lewi, suku yang dikhususkan untuk melayani ibadah di Bait Allah, pasti paham bahwa manusia mesti menolong saudaranya yang sedang berada dalam penderitaan. Sikap mereka terhadap sesamanya memperlihatkan bahwa Firman Tuhan tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sama seperti kita yang rajin beribadah dan tahu tentang mengasihi sesama namun bila kita suka berbohong, melakukan kekerasan pada keluarga, dan tidak peduli pada yang membutuhkan, Firman Tuhan itu jauh dari kita. Padahal dalam Ulangan 30:14, sesungguhnya Firman Tuhan itu dekat dengan kita, dapat kita dengar, dapat kita baca, dan dapat kita ucapkan dengan mulut sehingga diharapkan juga dapat kita lakukan.
Firman Tuhan dan hukum-hukum-Nya disampaikan pada manusia bukan untuk membuat manusia celaka dan putus asa tetapi untuk membuat kehidupan tertib dan demi kesejahteraan manusia. Hal inilah yang didoakan Paulus bagi jemaat di Kolose (Kolose 1:3-14). Paulus berdoa agar orang-orang Kristen di Kolose tetap berkomitmen menghidupi Firman Tuhan sehingga mereka dapat bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah dan Tuhan senantiasa menguatkan mereka. Hal ini juga diharapkan terjadi bagi orang-orang Kristen sekarang. Namun ada kalanya sebagai manusia kita alpa dan jatuh dalam dosa. Tetapi alangkah baik bila kita tidak menyerah dan berfokus pada Allah dan Firman-Nya. Kita tidak mengeraskan hati kita melainkan datang pada Allah sebab seperti kata Pemazmur bahwa Allah akan membimbing dan mengajarkan jalan-jalan-Nya pada kita (Mazmur 25:9).
Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau. Firman Tuhan juga bukan sesuatu yang ideal yang tidak dapat dilakukan manusia. Firman Tuhan itu sesungguhnya dekat dengan kita. Kesepuluh Hukum Taurat dengan berbagai rinciannya telah disederhanakan oleh Yesus menjadi Hukum Kasih. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan sesuatu yang praktis yang dapat kita kerjakan dan bukan konsep semata. Marilah kita tetap memelihara rasa haus dan lapar akan Firman Tuhan dan menjadikannya gaya hidup kita. Amin.

Febrita Melati

Dia Yang Memulihkan

Dia Yang Memulihkan
Yesaya 66:10-14, Mazmur 66: 1-9, Galatia 6:1-6, 7-16, Lukas 10:1-11, 16-20

Setiap selesai ibadah pada hari Minggu di GKI, kita selalu mendengar Pemimpin Ibadah megucapkan berkat yang didahului sebuah pengutusan. Pengutusan berarti ibadah tidak berhenti di dalam gereja saja melainkan dilanjutkan dengan ibadah dalam hidup sehari-hari. Ibadah dalam hidup sehari-hari dinyatakan dengan sikap kita sebagai saksi-saksi Kristus yang menyampaikan kabar baik bagi dunia. Menjadi saksi Kristus itu berarti Allah mengutus kita melalui Yesus Kristus untuk memulihkan keadaan dunia (Lukas 10:1-11, 16-20). Bukan rahasia lagi bila dunia kita sekarang penuh dengan ketidakadilan, korup, kemiskinan, penderitaan dan pelanggaran-pelanggaran lain yang tidak sesuai dengan maksud Allah menciptakannya. Oleh karena itu dunia kita butuh untuk dipulihkan. Dalam memulihkan keadaaan dunia, kita tidak sendirian tetap ada rekan yang menemani kita. Seperti inilah yang dilakukan Yesus bagi murid-murid-Nya, mereka diutus berdua-berdua agar mereka dapat saling mendukung satu dengan yang lain.
Tugas murid-murid Kristus bukan menghakimi melainkan memulihkan (memimpin dalam bahasa Yunani = memulihkan, meluruskan tulang yang patah, Galatia 6:1) orang-orang ke jalan yang benar. Mereka juga diharapkan tidak menonjolkan diri dengan urusan-urusan yang tidak perlu demi mencari pengakuan dan eksistensi di tengah pengutusan seperti orang-orang Yahudi di sekitar mereka (Galatia 7:16). Oleh karena itu kerendahan hati sebagai utusan Kristus sangat diperlukan agar pengutusan ini dapat terjadi dalam damai. Dalam menjalankan amanat pengutusan itu tentu banyak tantangan seperti diremehkan, ditolak, dianiaya bahkan dibunuh seperti yang dialami oleh Rasul Paulus. Namun Allah memberikan jaminan keselamatan agar kita tetap dapat terus menjalani amanat Allah ini dengan sukacita (Yesaya 66:10-14) dan sudah sewajarnya kita bersyukur sebab Allah yang hidup pasti memulihkan. Allah yang telah memulihkan situasi bangsa Israel dari perbudakan ke pembebasan juga akan memulihkan situasi kita, situasi keluarga kita, situasi masyarakat dimana kita tinggal dan situasi negeri kita ke arah pembebasan (Mazmur 66:1-9).
Situasi kita sekarang membutuhkan pemulihan dimana-mana dan kapan saja. Hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk memulihkan yaitu ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang kini berada dekat dengan kita: maukah kita menjadi mata bagi mereka yang buta?, menjadi telinga bagi mereka yang tuli?, menjadi tongkat bagi mereka yang timpang? dan menjadi obor bagi mereka yang berada dalam kegelapan? Jangan katakan tidak atau tidak mampu, sebab Allah memberikan berkat-Nya pada kita untuk memperlengkapi kita agar kita sanggup menjalankan pengutusan dari-Nya dalam memulihkan sesama. Berkat yang Ia berikan untuk pengutusan ini sudah kita terima setiap hari Minggu sesaaat sebelum kita selesai beribadah. Saatnya sekarang berkat tersebut kita imani untuk melanjutkan karya-Nya yang memulihkan sesama. Tuhan Yesus memberkati.

Febrita Melati