Kamis, 09 Januari 2014

BAPTISAN – PERUBAHAN HIDUP



BAPTISAN – PERUBAHAN HIDUP
YESAYA 42:1-9; MAZMUR 29; KISAH PARA RASUL 10:34-43; MATIUS 3:13-17

1.      Baptisan dengan cara bagaimanakah yang benar? Menyelamkan seluruh tubuh, menyelamkan sampai ke leher, mengguyur segayung air ke kepala, memercik, menuang segenggam air ke kepala atau membasahi yaitu meletakkan telapak tangan yang dibasahi di dahi?
2.      Apakah makna baptisan gereja, pembersihan diri atau pemulihan hubungan?

Dua pertanyaan di atas seringkali menjadi pergumulan umat Kristen ketika berbicara tentang baptisan. Ditambah lagi ada aliran kekristenan tertentu yang memojokkan (mendiskriminasi) kita yang tidak dibaptis selam. Mereka yang dibaptis selam mengatakan baptisan kita tidak sah karena tidak mengikuti contoh yang diberikan Yesus. Yesus dibaptis selam di sungai Yordan, harusnya sebagai pengikutNya kita juga dibaptis selam. Padahal jika kita baca Matius 3: 13-17 serta paralelnya dalam Injil Markus, Lukas dan Yohanes, kita tidak mendapatkan informasi lebih lanjut Yesus dibaptis selam atau bukan. Yang jelas di sana hanya ditulis, Yesus dibaptis. Baptis berasal dari Bahasa Yunani Baptizo. Baptizo mempunyai banyak arti seperti membenamkan, mandi atau mencuci seperti mencuci periuk. Jadi terlihat jelas, apapun cara gereja melakukan baptisan, semuanya sah. Tidak soal bagaimana cara gereja melakukan baptisan karena keselamatan bukan datang dari air baptisan tetapi dari pendamaian oleh Kristus di kayu salib.
      Namun mungkin kita masih penasaran, jadi sebenarnya Yesus dibaptis selam atau bukan? Untuk menjawab pertanyaan ini sekaligus menjawab pertanyaan kedua di atas, mari kita perhatikan terlebih dahulu mengenai baptisan yang dilakukan oleh Yohanes pembaptis. Baptisan yang dilakukan Yohanes bermula dari upacara pembersihan diri dari hal-hal yang haram menurut agama yahudi atau bisa disebut upacara menghalalkan diri. Upacara itu dilakukan dengan cara membenamkan seluruh tubuh seseorang ke dalam air yang mengalir. Selain untuk menghalalkan diri, upacara baptisan dalam tradisi Yahudi bisa berarti juga baptisan proselit, yaitu baptisan untuk laki-laki/perempuan kafir yang bertobat dan masuk menjadi yahudi. Mungkin kita akan dengan spontan mengatakan, “nah jika begitu benar dong Yesus dibaptis secara selam?” Jika merunut secara tradisi Yahudi kemungkinan besar memang begitu. Namun jika kita mau mengikuti cara pembaptisan seperti itu maka gereja-gereja sekarang harus membaptis di air yang mengalir sedangkan para penganut baptis selam masih banyak yang melakukannya di dalam kolam (air tidak mengalir). Selain itu makna baptisan yahudi berbeda dengan makna baptisan Kristen.
      Gereja memahami baptisan sebagai tanda masuk (inisiasi) ke dalam komunitas Kristen, yaitu gereja, tanpa ada pembedaan Yahudi, Yunani atau yang lainnya (Galatia 3: 27-28) jadi ini berbeda dengan baptisan yahudi yang berupa baptisan proselit. Baptisan juga berarti kehidupan baru sebagai hasil pemulihan hubungan antara Allah dan manusia. Baptisan adalah perjanjian Antara dua pihak yang tidak sederajat, yaitu Allah dan manusia. Tuhanlah yang berprakarsa, manusia hanya menerima. Kita dibaptis bukan karena prestasi iman. Baptisan bukan hasil pertobatan kita, melainkan hasil Anugerah Tuhan. Jadi air dalam baptisan tidak lagi dianggap lambang pembersih tetapi lambang penghidup dan penumbuh. Maknanya sudah berubah, jadi tidak lagi penting harus diselam atau dipercik. Semua cara baik karena yang menjadi lambang bukanlah caranya tapi airnya.
      Kita yang telah dibaptis artinya kita telah didamaikan dengan Allah dan manusia, itu artinya juga kita harus hidup damai dengan sesama manusia tanpa mendiskriminasi (memojokkan) mereka yang berbeda dengan kita. Ingatlah, Allah kita adalah Allah yang tidak membedakan orang (Kisah Para Rasul 10:34), Yesus adalah Tuhan dari semua orang (Kisah Para Rasul 10:36). Bahkan Allah mendengarkan doa Kornelius dan mengingat sedekahnya jauh sebelum dia dibaptis (Kisah Para Rasul 10:31).
      Apakah air baptisan yang telah dipercikkan ke tubuh kita membuat kita terus hidup dan bertumbuh makin serupa Kristus yang tidak mendiskriminasikan? Atau jangan-jangan setelah dibaptis kita tetap tidak mengalami pertumbuhan sama sekali? Jangan-jangan kita masih suka mendiskriminasi atau memojokkan orang lain yang berbeda dengan kita. Termasuk yang manakah kita, yang sudah berubah atau yang tidak berubah?

Nuryanto Gracia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar