Kamis, 26 September 2013

MENJADI BIJAK, BUKAN TAMAK, TERHADAP UANG

MENJADI BIJAK, BUKAN TAMAK, TERHADAP UANG
AMOS 6: 1, 4-7; MAZMUR 146; 1 TIMOTIUS 6: 6-19; LUKAS 16: 19-31

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Timotius 6:10). Apakah uang punya kekuatan sebegitu besar sehingga segala kejahatan berakar pada uang? Ya. Demi warisan seorang anak bisa membunuh ayahnya. Demi uang persembahan, beberapa pendeta di gereja tertentu, bisa saling menghujat rekan sekerjanya. Demi mendapatkan proyek atau dagangan kita laku, kita bisa memfitnah lawan bisnis kita. Demi bisa membeli gadget (HP/tablet/laptop) terbaru remaja bisa terlibat dalam pencurian, bahkan ada yang sampai menjual keperawanannya dan juga organ tubuhnya (misal ginjal). Demi memuaskan kebutuhan diri dan keluarganya, aparat pemerintah rela mengkorupsi uang rakyat, dan hal ini yang menjadi masalah besar di negara Indonesia sekarang. Dan masih banyak contoh-contoh kejahatan lainnya yang diakibatkan oleh cinta uang.

Kekristenan tidak melarang kita kaya ataupun kita punya banyak uang, yang dilarang adalah cinta uang. Cinta uang membuat kita tamak dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan sampai ibadah pun dijadikan alat mencari uang/keuntungan. 

Perhatikan kisah Yesus tentang orang kaya di dalam Lukas 16: 19-31. Orang kaya ini dapat dikatakan sangat kaya, ayat 19 mengatakan dia berpakaian jubah ungu. Pada zaman itu, jubah ungu melambangkan kekayaan dan kekuasaan. Selain sangat kaya, orang ini sangat suka berfoya-foya. Dia mengadakan pesta setiap hari di rumahnya. Yang menjadi masalah bukan hanya kekayaan dan foya-foyanya tapi sikap apatisnya, sikap tidak peduli dengan sekitarnya.

Di depan pintu rumahnya ada seorang pengemis yang badannya penuh borok. Di depan pintu rumah, itu artinya setiap kali orang kaya itu keluar atau pun masuk ke rumah, ataupun membukakan pintu untuk mengundang teman-temannya masuk berpesta, dia pasti melihat pengemis itu. Tapi anehnya, orang kaya ini tidak merasa terganggu sama sekali. Mungkin kita berpikir, “Bagus dong, dia tidak terganggu dengan kehadiran pengemis menjijikkan tersebut. Bahkan dia tidak mengusir pengemis itu.” Dia memang tidak mengusir pengemis tersebut tapi dia juga tidak membantu sama sekali pengemis tersebut.

Kita mungkin berpikir sama seperti orang kaya tersebut,  jika tidak mau membantu (bukan tidak bisa membantu), ya sudah jangan mengganggu mereka. Kita pikir ini adalah sikap yang aman. Kita mungkin berpikir kita tidak seperti orang kaya dalam kisah Amos yang mendapatkan kenyamanan dan keamanannya (Amos 6:1,4-7) dari melakukan penindasan dan ketidakadilan. Orang-orang kaya dalam kitab Amos bisa berbaring di tempat tidur dari gading, bisa duduk santai, bisa memakan anak domba dan lembu, bisa bernyanyi-nyanyi dan juga bisa minum anggur dari menyiksa orang miskin (kita bisa baca Amos pasal 1 – 5).
Kita mungkin merasa tidak seperti orang kaya dalam kisah Amos, kita merasa kita seperti orang kaya dalam kisah Yesus. Namun dalam kisah tersebut, justru orang kaya ini ketika mati dimasukkan ke tempat penderitaan. Dia meminta agar Lazarus memberitahukan ke saudara-saudaranya bahwa tindakan mereka selama ini salah. Yah, bagi Yesus tindakan orang kaya tersebut salah.  Walaupun tidak menindas orang miskin, namun ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar juga adalah salah. Tamak dengan harta, di depan mata melihat ada orang menderita namun tidak mau membantu, itu adalah sikap yang salah.
Yakobus 4:17 mengatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Kita melihat ada orang yang menderita di sekitar kita dan kita tahu bahwa kita harus membantunya, tapi kita justru tidak peduli, maka kita telah berbuat dosa.

Dan untuk setiap kita yang miskin (harta), ketika membaca penjelasan di atas, bukan lantas memberi kita pemikiran,” Wah ini kesempatan untuk menunjukkan diri menderita di depan orang-orang kaya agar diberi bantuan” sehingga kita menjadi pengemis belas kasihan. Atau pemikiran “Wah ini kesempatan untuk minta bantuan dari gereja, gereja kan harus membantu umatnya yang membutuhkan pertolongan” sehingga kita ke gereja hanya demi mendapatkan bantuan beasiswa anak ataupun diakonia bukan untuk ibadah. Dalam jemaat yang dilayani Timotius, ada banyak yang beribadah dengan motivasi ingin diberi bantuan dana, dan ingin mendapatkan keuntungan (1 Timotius 6:5). Yang ke gereja untuk mencari untung bukan hanya orang miskin saja, orang kaya pun banyak. Ke gereja agar dapat memperbanyak rekan bisnis, tapi tidak fokus ke ibadahnya. Paulus mengingatkan, ibadah memang memberi keuntungan besar, jika disertai rasa cukup. Cukup itu seperti apa? Paulus mengatakan cukup itu asal ada makanan dan pakaian (1 Timotius 6:8).  Oleh karena itu, Paulus berpesan jangan ke gereja untuk mencari keuntungan tapi kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan (1  Timotius 6:11).

Renungan minggu ini memang sangat tajam, mungkin banyak yang tersinggung dan sakit hati. Jika kita merasa seperti orang kaya dalam kisah Yesus atau orang miskin dan kaya dalam jemaat Timotius atau lebih-lebih lagi seperti orang kaya dalam kisah Amos, cepatlah memperbaiki diri sebelum terlambat  karena jika Tuhan memanggil kita, tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Peringatkan juga saudara atau rekan kita yang sampai sekarang mungkin masih seperti orang kaya atau orang miskin dalam renungan minggu ini karena ketika kita telah dipanggil Tuhan, kita tidak bisa lagi memperingatkan saudara atau rekan kita (Lukas 16: 27-31).

Namun jika kita tidak seperti orang kaya ataupun orang miskin tersebut, maka berlaku biijaklah terhadap uang. Pergunakan uang dengan bijak, jangan tamak. Ingatlah, “akar segala kejahatan ialah cinta uang.”


Nuryanto Gracia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar