Rabu, 04 September 2013

MELEPASKAN MILIK UNTUK MENGIKUT TUHAN


MELEPASKAN MILIK UNTUK MENGIKUT TUHAN

UL 30: 15-20; MZM 1:1-6, FIL 1: 1-21; LUK :14-25-33

Bacaan minggu ini dipenuhi dengan rentetan pilihan, sama seperti hidup kita yang dipenuhi oleh rentetan pilihan. Tidak ada satu hari pun dalam hidup ini yang mengijinkan kita untuk tidak memilih.

Ulangan 30:15 mengajak kita memilih kehidupan dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan, “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan.” Memilih kehidupan dan keberuntungan konsekuensinya harus hidup mengasihi Tuhan dan sesuai dengan jalan-Nya yang terkadang melelahkan dan tidak menyenangkan tapi kita akan hidup dan beruntung. Tapi jika kita memilih kematian dan kecelakaan, “maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi,” (Ul 30:18)

Paulus dalam Filemon 1:17 mengatakan “Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.” Paulus memberikan pilihan kepada Filemon, mau menganggap Paulus teman seimannya atau tidak? Jika iya, maka terimalah Onesimus seperti dia menerima Paulus. Pilihan ini tampak mudah bagi kita yang membacanya dalam kacamata dunia sekarang. Namun coba kita tempatkan dalam posisi Filemon saat itu. Onesimus adalah budak yang dibeli oleh Filemon. Budak tidak bisa begitu saja kabur dari tempat tuannya. Namun pada saat itu, Onesimus kabur dari tempat Filemon. Bayangkan perasaan benci yang timbul dalam diri Filemon terhadap Onesimus pada saat itu. Dalam keadaan benci seperti itu, Paulus meminta Filemon mengampuninya dan menganggap Onesimus seperti Paulus. Jika Onesimus tidak kabur saja, dia adalah budak. Tidak mungkin dia disamakan dengan Paulus. Ini ditambah lagi dia seorang budak yang berusaha kabur dari tuannya dan harus diterima seperti Filemon menerima Paulus. Pilihan yang sangat sulit.

Perhatikan juga kisah Yesus dalam Lukas 14:25-33. Pada saat itu banyak orang mengikutinya. Seandainya Yesus seorang politikus pada masa kini, ketika Yesus berpaling ke mereka maka bunyi Lukas 14:26-27 tidak lah seperti sekarang, mungkin bunyinya akan menjadi “"Jikalau seseorang memilih dan mengikut Aku, maka hidup bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan akan terjamin. Bahkan nyawa bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan akan aman. Hidupnya tidak akan pernah menderita.” Namun sayangnya, Yesus bukanlah seorang politikus yang hanya bisa mengobral janji muluk. Yesus justru memberikan pilihan sulit bagi orang-orang yang mau mengikutNya. Oleh karena itu lah, dalam Luk 14:26-27 Yesus mengatakan, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ditambah lagi ayat 33 Yesus mengatakan, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Yesus memberikan pilihan mau ikut Dia atau tidak? Jika mau ikut Dia maka kita harus miseo. Miseo adalah kata Yunani yang diterjemahkan oleh LAI dengan “membenci” pada ayat 26. Miseo dapat juga diartikan “menghormati dengan kasih sayang yang lebih sedikit” atau “mengasihi atau menghargai lebih sedikit.” Itu artinya jika ingin mengikut Yesus rasa sayang dan hormat kita harus jauh “lebih banyak” kepada Yesus dibandingkan dengan keluarga kita. Jika sekarang kita begitu sayang dan hormat dengan keluarga kita, maka dengan Yesus harus jauh lebih dari itu.

Dari bacaan kesatu hingga yang ketiga, kita diperhadapkan pada pilihan yang teramat sulit. Maukah kita memilih kehidupan dan keberuntungan? Maukah kita memperlakukan orang yang paling hina dan paling kita benci seperti kita memperlakukan orang yang kita hormati dan kasihi? Mau kah kita mengikut Yesus dengan kasih dan hormat yang jauh “lebih banyak” dari rasa kasih dan hormat kita kepada keluarga kita?

Berat memang pilihannya, namun pemazmur mengatakan berbahagialah kita yang memilih semua itu, yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa (Mzm 1:1), karena hidup kita seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mzm 1:3).

 

Nuryanto Gracia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar