Rabu, 18 September 2013

YANG SETIA YANG DIPUJI


YANG SETIA YANG DIPUJI

AMOS 8:4-7; MZM 113; 1 TIMOTIUS 2:1-7; LUKAS 16:1-13

Di gereja mendengar khotbah dengan mata berbinar-binar, kembali ke rumah justru jadi orang yang sangar. Sangar dengan anak, sangar dengan suami/istri, sangar dengan orangtua, sangar dengan tetangga. Di gereja membaca Alkitab dengan tenang, di rumah bikin perang. Perang dengan anak, perang dengan suami/istri, perang dengan orangtua, perang dengan tetangga. Di gereja memuji Tuhan dengan berapi-api, di tempat kerja menceritakan keburukan orang lain juga dengan berapi-api. Apa gunanya beribadah di gereja jika begitu? Apakah kita berharap dengan rajin beribadah saja akan menyenangkan hati Tuhan? Apakah Tuhan senang dengan ibadah kita yang semarak dan gegap gempita? Apakah Tuhan senang dengan banyaknya uang persembahan yang kita berikan tiap minggu?

“Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar” (Amos 5:21-23). Tuhan membenci ibadah umat Israel pada zaman Amos. Mengapa? Karena mereka melakukan kekejian terhadap orang miskin dan sengsara, mereka melakukan ketidakadilan, mereka memperjualbelikan manusia (Amos 8:4-6). Intinya, ibadah dan kehidupan nyata mereka sangat berbeda.

Jangan-jangan juga Tuhan tidak suka dengan ibadah kita. Ibadah yang hanya berbentuk ritualitas tanpa spiritualitas. Ibadah yang hanya menarik namun munafik. Ibadah yang hanya peduli dengan kepentingan diri sendiri dan tidak peduli dengan kepentingan orang lain. Ibadah yang hanya memuaskan ego sendiri agar diselamatkan masuk surga, agar diberkati seluruh hidupnya, agar dilancarkan seluruh bisnisnya, agar indah masa depannya.

Padahal, Tuhan yang disembah dalam ibadah kita, Tuhan Yesus Kristus, adalah Tuhan yang tidak hanya memikirkan diri sendiri melainkan juga kepentingan orang lain.  Dalam 1 Timotius 2:3-4 Paulus mengatakan, “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” Tuhan ingin semua orang diselamatkan, bukan hanya kita. Tuhan peduli dengan semua orang. Jika kita sungguh beribadah kepada Tuhan Yesus Kristus, maka seharusnya kita pun memiliki kepedulian yang sama denganNya.

Ibadah tidak hanya sekadar memuaskan keinginan dan kebutuhan sendiri tetapi juga berdampak bagi orang-orang di sekitar kita. Dampak baik yang kita berikan untuk orang-orang di sekitar kita, suatu saat nanti juga akan memberikan dampak yang baik bagi diri kita. Anehnya ini yang tidak disadari oleh setiap kita yang beribadah, justru hal ini disadari oleh bendahara yang tidak jujur dalam perumpamaan Yesus (Lukas 16:1-8).

Bendahara ini ketahuan oleh tuannya telah menghamburkan uang milik tuannya. Dia akan segera dipecat. Sebelum dipecat dia memikirkan apa yang bisa dilakukannya agar setelah dipecat hidupnya tidak sengsara. “Memberi dampak baik,” hal ini yang akhirnya dipilih secara cerdik oleh si bendara. Dia sadar jika dia memberi dampak baik bagi sekitarnya, suatu saat nanti sekitarnya pun akan memberi dampak baik bagi dirinya. Itu lah kenapa tuannya memuji dia, bukan karena perbuatan liciknya tapi karena kecerdikannya mengelola masalah dengan memanfaatkan sistem tabur tuai. Apa yang ditabur, itu yang dituai. Menabur kebaikan, akan menuai kebaikan. Bendahara itu lebih cerdik daripada kita yang sering beribadah, itulah kenapa kitab Lukas mengatakan “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Luk 16:8).

Kita belajar dari si bendahara bahwa peduli dengan sekitar akan berdampak baik juga bagi diri kita. Tapi motivasi kita peduli dengan sekitar berbeda dengan si bendara. Kita peduli dengan sekitar karena ungkapan syukur atas kasih Allah kepada kita. Kita beribadah di gereja juga sebagai ungkapan syukur atas kasih Allah. Oleh karena itu, ungkapan syukur kita harus holistik (menyeluruh), tidak hanya di gereja namun juga dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Ketika bersyukur atas kasih Allah diungkapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita maka tidak ada lagi mereka yang baik di gereja namun jahat di luar. Atau baik di luar tapi tidak mau ke gereja karena merasa berbuat baik saja sudah cukup. Bersyukur secara holistik memang sulit, itulah kenapa kita lebih memilih cukup bersyukur di gereja saja. Tapi jika kita tetap setia maka Tuhan akan memuji kita, karena hanya yang setia yang layak mendapatkan pujian. “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan,” (Matius 25:34).

 

Nuryanto Gracia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar